Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Oktober 2013

Film Terlaris Sepanjang 2012

Sepanjang tahun 2012, kita cukup terhibur oleh sederetan film-film terbaik atau setidaknya film yang paling dinantikan.
Bagi para penggemar tokoh komik superhero, tahun ini sepertinya menjadi tahun yang paling dinantikan. Begitu banyak film yang mengangkat tokoh komik dirilis di tahun 2012.
Mulai dari sekuel terakhir trilogi Batman karya Christoper Nolan, "The Dark Knight Rises", "The Amazing Spiderman" hingga film bersatunya para superhero idola dalam "The Avangers".
Jangan lupakan "The Hunger Games", film yang diadaptasi dari novel petualangan karya Suzanne Collins. Film yang dibintangi Jennifer Lawrence, aktris muda yang sedang bersinar karirnya, digadang-gadang sebagai "The next Harry Potter" (terbukti, ribuan penggemar di Amerika rela menginap demi mendapatkan tiket film tersebut).
Tahun ini juga menjadi saksi momen perpisahan antara  para twihard dengan film "Twiligh Saga" dengan dirilisnya sekuel terakhir film tersebut, "The Twilight Saga: Breaking Dawn - Part 2".
Sekuel lainnya yang ditunggu-tunggu antara lain "Skyfall" (film ini juga menandai 50 tahunnya James Bond "berkarya") dan Men in Black 3.
Jangan heran jika film-film tersebut mendominasi box office 2012. Nah, berikut 25 film yang merajai box office pada tahun 2012 (per 17 Desember) menurut www.boxofficemojo.com seperti yang dikutip TRIBUNnews.com dari IMDb.
25 Film Terlaris 2012
1. The Avengers
623,3 juta dolar As

2. The Dark Knight Rises
448,1 juta dolar AS

3. The Hunger Games
408,1 juta dolar AS

4. The Twilight Saga: Breaking Dawn - Part 2
276,8 juta dolar AS

5. Skyfall
271,9 juta dolar AS

6. The Amazing Spiderman
262,1 juta dolar AS

7. Brave
237,2 juta dolar AS

8. Ted
218 juta dolar AS

9. Madagascar 3: Europe's Most Wanted
216,4 juta dolar AS

10. The Lorax
214,1 juta dolar AS

11. Men in Black 3
179,1 juta dolar AS

12. Wreck-It Ralph
168,7 juta dolar AS

13. Ice Age: Continental Drift
161,1 juta dolar AS

14. Snow White and the Huntsman
155,1 juta dolar AS

15. Hotel Transylvania
143,8 juta dolar AS

16. 21 Jump Street
138,4 juta dolar AS

17. Taken 2
138,1 juta dolar AS

18. Prometheus
126,5 juta dolar AS

19. Safe House
126,2 juta dolar AS

20. The Vow
125,1 juta dolar AS

21. Magic Mike
113,7 juta dolar AS

22. The Bourne Legacy
113,2 juta dolar AS

23. Lincoln
107,7 juta dolar AS

24. Argo
104,9 juta dolar AS

25. Journey 2: The Mysterious Island
103,8 juta dolar AS

Sabtu, 29 Juni 2013

Proyektor Yang Digunakan Bioskop Indonesia



Bagi movieholic mungkin mengerti hal terpenting saat menonton film dibioskop adalah kualitas gambar yang baik dan jernih. Kualitas gambar yang baik dan jernih dihasilkan dari proyektor yang juga harus berkualitas. dan tahukan kalian proyektor apa yang diapakai bioskop di Indonesia...????(hayooo apa..??)


buat yang nebak

100 buat kalian...(ambil di Pak ogah ya...hahaha)
ya betul di Bioskop Indonesia masih memakai 2 digital proyektor tersebut.

Kedua proyektor diatas memiliki kualitas bentang 4k (3.840 x 2.160 Pixel)


Secara resolusi, kopi film 35mm “tradisional” masih lebih unggul dari format DCP yang sekarang ada. Format kopi film 35mm diperkirakan setara dengan resolusi 8K sedangkan format tayang di bioskop digital yang paling tinggi kualitasnya masih 4K. Kelebihan format digital adalah kejernihan kualitas gambar yang selalu konsisten karena tidak adanya risiko gambar cacat atau kotor karena sentuhan fisik seperti yang terjadi dengan kopi film.

Sejarah Digital Cinema ini sendiri bermula pada tahun 2002 dimana pada saat itu para Major Studio Hollywood membentuk sebuah organisasi yang bernama Digital Cinema Initiative (DCI). Organisasi ini diciptakan untuk menentukan standar arsitektur untuk bioskop digital agar tercapai model yang seragam secara global, berkualitas tinggi dan tangguh. Dengan mengacu pada standar Society of Motion Picture and Television Engineers (SMPTE) maupun International Organization for Standardization (ISO) maka ditentukan standar/format tertentu yang harus diaplikasikan untuk menyiapkan master materi film, sistem distribusinya, sampai ke urusan perlindungan isi film (content), pengacakan (encryption), dan penandaan khusus untuk menghindari pembajakan (forensic marking). Semua teknologi bioskop digital yang memenuhi persyaratan mereka disebut DCI Compliance (sesuai/cocok dengan DCI). Perbedaan dasar antara sinema analog dengan digital adalah cara pengemasannya (packaging), distribusi, dan penayangannya.

Untuk pendistribusian sebuah film, idealnya produser/rumah produksi mengirim materi ke server bioskop pada waktu dan tempat yang ditentukan lewat jaringan satelit. Kenyataaannya, karena keterbatasan infrastruktur, sampai sekarang materi film dikirim secara fisik dalam bentuk hard disk portable ke bioskop tujuan dan kemudian datanya ditransfer ke server bioskop.

Materi film itu baru bisa ditayangkan bila dimasukkan nomor seri khusus ke dalam sistem proteksi isi, pengacakan, dan penandaan khusus yang menempel pada materi film digital itu. Teknologi sistem proteksi isi ini disebut Key Delivery Message (KDM). Dengan KDM, materi film digital hanya bisa dibuka dengan nomor seri khusus pada waktu dan di tempat yang sudah ditentukan. Apabila terjadi pembajakan di bioskop, dengan alat khusus dapat dibaca watermark digital di kopi bajakan sehingga dapat dilacak di bioskop mana dan kapan pembajakan terjadi.

Untuk harga investasi sendiri, jelaslah harga investasi Bioskop Digital ini jauh lebih mahal ketimbang bioskop analog, perlu di ketahui harga satu projector berkisar USD 150.000 bandingkan dengan harga proyektor analog yang hanya USD 50.000 belum lagi di tambah beban pembelian server dimana satu alatnya berkisar sekitar USD 8.800.

Reference

Our Sponsor